Jumat, 31 Mei 2013

Cerbung Part 1 -Akibat MOS-

"Nama?" Ucapan dingin dengan nada tinggi terdengar dari sebuah pojok kordior Sekolah.
"Vita kak." Jawab seorang calon murid yang masih berpakaian putih dongker.
"Nama panjang!!"
"Grevita Lisa kak."
"Kurang panjang!!"
"Memang itu nama saya kak, demi Tuhaaaan!!!!"
"Bohong tuh!" Tiba-tiba seorang laki-laki lewat dengan senyum miring yang terkesan kejam.
"Kenapa kamu mau masuk SMA Cahaya Negeri?"
"Mama yang suruh."
Buuug! Tiba-tiba pandangan senior dan junior yang diketahui bernama Vita itu beralih ke seberang, ke sebuah gedung putih yang bertingkat 2.
"Wahahaha...." Vita tertawa lepas. Mungkin, anak autis pun akan tertawa jika melihat pemandangan sekali seabad itu. Seorang senior terjatuh dari tangga ketiga ketika terkejut melihat junior yang sedang makan cokelat. Senior itu bukanlah senior yang seperti dipikirkan. Tetapi, senior itu bertubuh gemuk, berbaju kesempitan, dan memakai topi SD nya.
"Woy! Jalan tuh liat-liat!!" Sahut Senior gemuk itu, yang suaranya terdengar lagi-lagi ketelinga Vita. Tapi anehnya, Vita gak bisa mengartikan bahasa itu layaknya Bahasa Indonesia seperti biasa, karena mulut senior gemuk nya itu penuh dengan 5 lolipop tanpa batang.
"Hah?" Jawab anak berkacamata, yang tak lain adalah lelaki bertubuh kurus yang mampu membuat senior gemuknya itu jatuh.
"Kalo jalan itu liat-liat!"
"Hah? Maaf mas, saya gak- gak ngerti!
Seakan mengerti kejanggalan yang terjadi, senior itu langsung MENYIMPAN lolipop itu kedalam sebuah plastik yang memang sudah ada dikantongnya.
"Kalo jalan liat-liat dong! Senior nih! Senior!"
"Maa-maaf mas. Permisi." Laki-laki berkacamata itu segera berlari ketika mengetahui mendapat jalan untuk segera pergi dari lorong tangga sempit itu. Sebenarnya, tangga itu bisa dipakai untuk 3 orang sekaligus. Tetapi, berhubung seniornya tadi tidak terbayang lebarnya, maka tangga itu tidak mustahil untuk retak.

Pandangan Vita kini beralih lagi menghadap seniornya, eh, bukan lagi seniornya kini yang berada didepannya. seniornya sekarang sudah berdiri de depan pintu ruangan tak jauh dari ujung koridir, bersama seorang lelaki putih.

-To be continue -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar